Kisah ini berdasarkan kemampuan ingatan dan pemahaman narasumber. Mohon maaf jika terjadi perbedaan pemahaman atau perbedaan isi cerita. Penulis sangat mengharapkan masukan anda jika memiliki atau memahami dengan jelas tentang kisah ini.
Pada zaman dahulu hiduplah sebuah keluarga kecil di sebuah hutan yang sekarang disebut kampung Desu, Desa Gulung, Kecamatan Satarmese utara, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur.Tetapi sebelum ke sana, Poca dulu hidup di belang sebelum pindah ke kampung Desu karena tidak nyaman hidup bersama pendatang baru keturunan Wangsa Ngkuléng. Keluarga kecil ini terdiri dari sepasang suami istri dan anak sematawayang mereka yang diberi nama Tandang. Kehidupan keseharian mereka adalah berburu dan meramu untuk mempertahankan hidup mereka.
Semakin berjalannya waktu, mereka kesulitan mendapatkan makanan karena buah - buahan dan binatang buruan semakin berkurang dan sulit ditangkap. Poca ayah dari si Tandang bingung mendapatkan makana untuk menghidupkan keluarga kecilnya. Suatu ketika, saat Poca berada di tengah hutan untuk mencari makan, dia beristirahat dibawah pohon karena merasa lelah berburu seharian. Tiba - tiba dia mendengar suara aneh yang tidak jelas sumbernya, memanggil namanya. " Pocaaaa" suara yang bergema itu memanggilnya. Dia mengangkat kepalanya dan mencoba dengan cermat mendengarkan suara itu. "Pocaaaaa" dengan jelas dia mendengar suara memanggil namanya. "Iyooo ite" (bahasa daerah yang artinya "iyaaa Tuan"), jawab si Poca. "Tundu apa dhau e?"( "apa yang sedang kamu pikirkan?"), suara itu menanyakan si Poca. "Aku ite tundu mose one kilo koeg, kawe wua haju kaku toe dumpu, ngo taang wase kole kaku toe haeng, wina agu anak gaku ga toe manga hang" ("saya sedang memikirkan kehidupan keluarga kecilku, karna saya suda tidak bisa mendapatkan buah- buahan dan buruan, sedangkan istri dan anakku sedang kelaparan"). Jawab Poca dengan suara yang lemah. “eme nggitu hau diang rimu puar mese hoo, poka taungs lehau haju mesed poli hitu tapa eme dango hajud” (kalau begitu kamu harus menebang hutan yang ada di sini semampumu, kemudian bakar sisa – sisa tumbuhan yang sudah kering”), suara itu memerintahnya untuk membersihkan lahan.
Lalau Poca mengikuti semuah perintahnya. dia menghabiskan waktunya selama beberapa bulan untuk membersihkan lahan tersebut. Alat yang digunakannya adalah batu karena saat itu masih zaman batu. setelah kering dia membakarnya menggunakan batu api. Kemudian suara misterius itu muncul lagi. kali ini dia menyuruh sesuatu yang berat untuk dilakukan. Suara itu menyuruhnya untuk membunuh anak satu – satunya. Poca tidak pernah menceritakan kejadian itu kepada istrinya. Dia menyadari bahwa istrinya tidak akan setuju dengan apa yang diperintahkan melalui suara itu. Karena kebingungan menghadapi kelaparan, Poca akhirnya merencanakan pembunuhan anaknya.
Hari itu Poca mengajak Tandang anaknya untuk bersama – sama dengan dia ke tempat yang sudah dibersihkan. Dengan sikap polos dan tidak mengetahui apa – apa, Tandang mengikuti ajakan ayahnya. dengan menggunakan batu yang tajam, Poca membunuh Tandang kemudian dicincangnya lalu ditebar keseluruh bagian lahan yang sudah dibersihkan sesuai perintah yang didengarnya lewat suara misterius itu. lalu turunlah hujan deras, disertai angin kencang di tempat tersebut. lalu Poca pulang ke rumah dengan hati yang sedih memikirkan anak kesayangan mereka. Ngalas melihat poca berjalan sendiri pulang ke rumah. Dia tidak melihat Tandang anak kesayanganya. Poca mempertanggung jawabkan bahwa Tandang hilang di tengah hutan saat dia sedang berburu. Saat itu juga si Ngalas menangis dan memarahi suaminya yang tidak menjaga anak mereka.
Beberapa minggu kemudian, Poca sangat merindukan anaknya yang telah dibunuhnya. Dia ingin melihat bekas – bekas daging dan dara anaknya. Dia tidak melihat sedikitpun darah apalagi daging di tempat itu. Hanya sebuah batu lempeng tajam yang digunakann untuk memotong dan batu datar panjang yang digunakan untuk alas saat dia memotongnya (sampai saat ini kedua batu tersebut masih ada di tempat itu “weri ata”). Sedangkan pada lahan ditumbuhi berbagai macam tanaman pangan dan hortikultura. “Hitu ngasangn ne woja” (“Yang itu namanya padi”), suara itu muncul saat dia memegang tanaman padi. “Hitu latung” (“kalau yang itu jagung”). begitulah dia memberi naman semua tanaman yang tumbuh di tempat itu. Selain padi dan jagung ada juga Ndesi (labu kuning), timung (mentimun) dan masih banyak tanaman lainnya.
Tibalah saatnaya tanaman – tanaman tersebut untuk dipanen. jagungnya sudah berisi, padi sudah mau menguning, labu kuning dan mentimunpun sudah berbuah, kacang – kacangan juga siap untuk dipanen. saat Ngalas istri poca memegang sala satu jagung tersebut untuk dipanen, tiba – tiba muncul suara dari dalam jagung “ Ende... aku cee” (“Ibu.. anakmu di sini). mendengar suara itu, dia tidak berani untuk mengambil jagung tersebut. Tetapi ada sebagian jagung yang tidak mengeluarkan suara ketika dipegang, jagung itulah yang diambilnya untuk dimakan. demikian pun tanaman – tanaman yang lain.
“Ende...aku cee”. kalimat tersebut selalu dipikirkan Ngalas saat perjalanan pulang ke rumahnya. Dalam hati dia memikirkan kenapa jagung itu mengatan hal itu padanya saat dipegangnya. Tetapi dia mencoba untuk diam hingga sampai dirumah dia tidak sanggup menahan rasa penasarannya itu. Dia lalu menceritakan kejadian itu pada Poca suaminya. Mendengar cerita itu Poca langsung meneteskan air matanya merindukan anak kesayangan mereka. Ngalah malah kebingungan melihat tingkah Poca. Poca menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada istrinya. Ngalas yang merasa telah dibohongi suaminya sangat marah. Sedangkan Poca yang merasa bersalah hanya terdiam dan mengakui kesalahannya.
Sejak saat itu corak kehidupan mereka berubah dari berburu dan meramu ke budaya bercocok tanam. Poca juga mengambil istri yang ke dua yaitu Menjing dan menghasilkan keturunan yang sekarang menghuni kampung Desu dan Tampar juga ada yang tersebar ke beberapa tempat di Flores.
Kisah ini diceritakan secara turun temurun dari nenek moyang masyarakat Desu. Ini dipercayakan oleh masyarakat Desu sebagai kisah nyata dengan beberapa alat bukti. Poca, Ngalas dan Menjing adalah benar – benar nenek moyang masyarakat Desu. Kuburan mereka bertiga baru saja dipindahkan di depan “Mbaru tembong” (Rumah Adat) Desu.Sedangkan tempat yang digunakan untuk menebarkan potongan - potongan daging manusia itu, sampai sekarang disebut "Weri Ata".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Saya sangat mengharapkan komntar anda